meninggalkan legacy

saya baru tersadarkan bahwa ini adalah legacy

bermula kala seorang sahabat seperjuangan (rayendra pratama) berkunjung ke kota kecil tempat saya mengais rezeki. sebuah serendipity ketika kami akhirnya bersua kembali.

di satu malam, kami nongkrong sambil menikmati bandrek hangat dan kudapan. disela-sela pembicaraan, ia berkata, “pola umum kaderisasi (puk) kita masih dipakai sampai sekarang”. saya tersenyum.

saya pernah diamanahi menjadi menteri pendidikan dan kaderisasi dibawah kepemimpinan presiden bem politeknik telkom (geni isno). kami memiliki objektif yang sama pada aspek pengembangan sdm aktivis kampus, yaitu harus ada pola pengkaderan yang berjenjang, berstandar dan komprehensif bagi organisasi mahasiswa (ormawa). kami tak ingin ormawa diisi oleh aktivis mahasiswa ala kadarnya.

pada akhirnya kami mengonsep ulang pola umum kaderisasi (puk) kampus. kami berikan kesegaran pada sisi penamaan. kami tambahkan satu kegiatan sebagai standar bagi calon pemimpin ormawa. itu semua dimulai pada masa ‘pemerintahan’ kami.

berselang beberapa tahun pasca meninggalkan kehidupan kampus, ternyata puk tersebut masih dipakai. saya cukup senang dapat meninggalkan legacy yang manfaatnya melampaui bilangan tahun. legacy sistemis. tapi saya tak bermaksud ujub karena saya hanya butiran debu di kehidupan kampus masa itu. aktor protagonisnya adalah mr. president. sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s