titik nadir kah?

pernahkah merasa hidup berada di titik nadir? seakan sudah mengintimkan diri kepada-Nya namun tak jua mendapatkan apa yang diasakan. karena tak ikhlas? terlalu menggantungkan harapan? atau hanya seakan yang berlebih?

hidup memakan buah simalakama. adagium yang tak dapat ditolak. mengapa tuhan memberi buah simalakama? karma kah? bukankah karma lebih enak dimakan ketimbang simalakama? sunah kan?

jadi apa yang hendak dibuat? handuk masih dipegang. dokter, mana dokter?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s