ini tentang takdir

ini bukan 100% keinginan saya. mungkin hanya 50%. sisanya adalah keinginan untuk memenuhi impian satu-satunya orang tua saya saat ini.

sedari kecil, menjadi seorang abdi negara tak pernah terbersit dalam imajinasi liar saya ihwal cita-cita. bukan, ini bukan cita-cita saya. bila bung hatta secara pasti memilih mekkah diantara opsi rendang, laut, buku, sekolah dan mekkah. maka saya pun secara pasti untuk tidak memilih abdi negara sebagai pilihan cita-cita.

laiknya bung hatta yang tak mampu menjalani pilihannya, saya pun demikian. menjelang usia seperempat abad, takdir tuhan berkata lain. saya, yang saat itu sedang giat-giatnya merintis bisnis, diberi tuhan jalan tersendiri. kaki saya dilangkahkan menuju jalan yang ribuan orang menginginkannya. saya diberi amanah untuk menjadi seorang abdi negara. saya lulus tes cpns secara murni, tanpa mengeluarkan sepeser uang pun. tes yang saya ikuti tanpa ambisi, nothing to lose. terkadang ada tanya dalam hati, mengapa tuhan memberi takdir ini?

saya teringat momen-momen saat mengikuti aksi demonstrasi menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan kampus. saya dan teman-teman seperjuangan memboikot perkuliahan pada hari itu dan membakar ban di halaman kampus. asap hitam pekat mengepul. kami pekikan akumulasi kekecewaan yang sudah terlampau lama menggumpal di otak. aksi ini tak luput dari pemberitaan media daring. saya hanya bemper di aksi itu. namun dampaknya luar biasa. pasca aksi itu, dosen wali saya, selama lebih kurang satu bulan, selalu menyentil saya di kelas. fokusnya pun tertuju ke saya, khusus ke saya. rupanya tak hanya saya yang mengalami ini, ada beberapa teman seperjuangan lain yang mendapatkan perlakuan lebih ekstrem dari dosen wali atau pihak manajemen kampus.

saat SMA, saya pernah berhadapan one-on-one dengan wakasek bidang kesiswaan. saya yang saat itu menjabat sebagai ketua OSIS pernah melaporkan beliau ke kepala sekolah karena penggunaan wewenang wakasek bidang kesiswaan yang sering off side. selama beberapa hari, saya tak bertegur sapa dengan beliau. dalam konteks koordinasi organisasi (ketua osis – wakasek bidang kesiswaan), kami pun tak bersuara. bahkan, saya pernah dipermalukan seorang diri saat upacara hari senin berlangsung. saya dimarahi. mungkin, itulah titik zenith kekesalan beliau terhadap saya.

dari dua peristiwa itu, saya akui, saya pernah memelihara idealisme pemikirian kritis dan tak pernah takut dalam mengekspresikannya. sekarang, dalam perspektif khusnudzan, saya sedang ditantang tuhan lewat takdir ini. ya, saya sedang ditantang tuhan untuk membuktikan seberapa konsisten & bijak saya dalam menjalankan idealisme itu karena saya berada di sistem yang selama ini saya keluhkan.

tanpa bermaksud menggeneralisasi, sudah menjadi ‘konsensus’ bahwa pns memiliki stigma negatif. namun sudah saya ikrarkan, bahwa saya harus menjadi antitesis dari kondisi tersebut. saya bukan superman atau manusia setengah dewa, yang dengan one man show bisa mengubah segala sesuatu lebih baik dan lebih cepat. saya hanya seorang ariscatur pratomo, masih butiran debu. tapi insyaAllah, saya akan memberikan pengaruh-pengaruh positif terhadap sistem dengan cara yang lebih bijak dan elegan. insyaAllah, itu komitmen saya.

jadi, inilah takdir tuhan terhadap saya. ibu saya, sangat bergembira atas takdir ini. saya anggap ini sebagai penebusan dosa atas banyak penyesalan terhadap sikap saya kepada almarhum bapak. dan ini bukanlah  100% keinginan saya tapi 100% saya mensyukurinya.

2 thoughts on “ini tentang takdir

  1. martiningsih says:

    Kadang takdir kakak tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini,cz ini berasalah dari allah swt. Tetapi hanya nasib yang mampu diubah oleh manusia.
    Tiada manusia yang hidup dengan sempurna,setiap manusia juga sering melakukan kesalahan. Jadi ketika sebagai sebaiknya hanya memperbaiki diri dan kembali kepda allah kk. Maaf iya apabilah comment salah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s