ikhlas

   Seseorang yang bergelar mujahid, yang meninggal di jalan allah, ditolak allah untuk masuk surga. Seseorang yang bertitel ustadz, yang ilmu agamanya sangat mendalam, ditolak allah untuk masuk surga. Seseorang  yang berpredikat dermawan, yang senantiasa bersedekah pun ditolak allah untuk masuk surga. Mengapa ketiga manusia yg sangat terhormat di dunia itu tak membuat allah memasukkan mereka ke surga? Karena ketiganya tidak ikhlas dalam berbuat. Naudzubillahi.

Cerita di atas disampaikan oleh seorang ustadz saat mengisi kultum ba’da dzuhur. Mendengarnya, saya langsung beristighfar. “Apakah saya sudah berupaya untuk ikhlas dalam setiap ibadah?”. Harus diakui, ikhlas adalah perkara yang susah-susah-gampang untuk dilakukan. Tidak hanya dalam konteks niat di awal ibadah tetapi juga bila kita kaitkan dengan keikhlasan untuk melepas sesuatu yang kita sayangi. Misal, saat kita harus merelakan kepergian orang tua kita untuk menghadap sang khalik. Atau saat kita kehilangan barang yang sudah diperjuangkan dengan peluh dan waktu. 

Dalam perspektif lain, saya sepakat dengan apa yang pernah disampaikan oleh ustadz yusuf mansur. Benar adanya bahwa keikhlasan merupakan satu hal penting yang elementer dalam beribadah. Namun keikhlasan itu jangan dijadikan bahan pertimbangan tak kunjung usai yang pada akhirnya menjadi batasan untuk melakukan suatu ibadah. Pokoknya lakukan saja satu ibadah tanpa perlu berpikir panjang. Ibadah adalah kebaikan, dan kebaikan itu perlu disegerakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s