SFC-ku malang, SFC-ku sayang

perjalanan Sriwijaya FC (SFC) musim ini terbilang cukup berat karena mengikuti 3 kompetisi sekaligus, yaitu ISL, Piala Indonesia, dan Piala AFC. di ISL sendiri, langkah SFC tertatih-tatih, sampai dengan putaran pekan ke 16, SFC menduduki peringkat 7 dengan rekor 7-2-7 dan mengumpulkan 23 poin, selisih 15 poin dengan pemuncak klasemen sementara, Persipura. Padahal, musim ini Ivan Kolev beserta anak asuhnya dibebani target menjuara ISL. Dengan kondisi seperti ini, bak jauh panggang dari api, asa untuk mengulang manisnya gelar ISL seperti pada tahun 2007 pun seakan pupus di tengah jalan. ada beberapa catatan terkait melempemnya performa SFC musim ini:

  1. SFC tidak memiliki goal-getter sejati layaknya Boaz Salosa di Persipura atau Edward Wilson Junior di Semen Padang. Stok penyerang SFC musim ini tidak memiliki penyerang bertipikal goal-getter yang oportunis dan produktif. Kayamba dan Budi lebih cenderung sebagai second-striker, sedangkan Rudi Widodo, Korinus Fingkreuw dan M. Rifki belum menunjukkan performa terbaiknya. Harapan kini disematkan pada penyerang anyar, Jajang Mulyana, yang direkrut dari Pelita Jaya.
  2. Relatif sulit mendapatkan pemain asing berkualitas. Hanya beberapa pemain asing yang berkualitas dan memenuhi harapan seperti Kayamba, Claudiano, dan Thierry Ghatussi. Sisanya seperti Park Jung Hwan dan Yong Jie Mu sangat jauh dari ekspektasi publik. Manajemen pun langsung bereaksi dengan membeli 2 pemain asing baru, yaitu Kim Jung Hee dan Lim Jun Sik. padahal sebelumnya, pemain asing asal timnas Philipina, De Jong, digadang-gadang akan membela SFC, namun kenyataan justru berbicara lain. De Jong gagal didapatkan. Untuk musim depan, mungkin SFC bisa merekrut Luis Henrique, pemain Jeonbuk Hyundai Motors asal Brazil. Pemain ini memiliki skill dan dribling di atas rata-rata dan cukup produktif.
  3. Kreatifitas permainan terlalu tergantung pada sang jendral lapangan tengah, Firman Utina. Ketika Firman Utina absen, kreatifitas lini tengah menjadi mandul. Memang masih ada darah muda seperti Mahardiga Lasut yang cukup prospektif tapi masih belum mampu menjadi jendral lapangan tengah yang memanjakan para penyerang.
  4. Terjadi ketimpangan antara pemain cadangan dan pemain inti. Mayoritas pemain inti SFC juga merupakan pemain inti di Timnas Garuda, ketika pemain-pemain tersebut absen karena membela pasukan garuda ataupun karena cedera, pemain cadangan belum cukup mampu untuk menjadi pelapis yang mumpuni.
  5. Konsistensi permainan dan fisik juga harus menjadi perhatian serius bagi Ivan Kolev. Apalagi SFC bermain di 3 kompetisi sekaligus, tentunya ini akan menjadi PR yang tidak mudah.

ke depannya, SFC harus memperbaiki performanya agar dapat memenuhi ekspektasi publik, paling tidak bisa menjuarai salah satu di antara 3 kompetisi yang diikuti sekarang. Kita lihat di akhir musim, apakah ekspektasi tersebut berhasil dipenuhi??? semoga saja.

SFC di dadaku, SFC kebanggaanku🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s