tentang penembakan yang tak seharusnya

kita semua sepakat bahwa kabur dari razia, hampir menabrak polisi, mobil bodong, sim mati dan plat palsu adalah tindakan yang salah. sangat wajar bila (oknum) aparat menaruh kecurigaan dan melakukan pengejaran. sampai di sini, dasarnya adalah asumsi tindak kejahatan.

namun sangat tidak wajar bila asumsi tindak kejahatan dijadikan pembenaran untuk menghilangkan nyawa orang yang tak seharusnya. diskresi yang gegabah. power abuse.

pada akhirnya, asumsi tindak kejahatan tidak terbukti. fakta berkata lain. semoga tidak terulang.

orang baik pilih orang baik?

“saya pilih X karena X orang baik”, ujar salah seorang pendukung kandidat kepala daerah. ujaran ini mengingatkan pada tagline kampanye yang pernah diusung tahun 2014 lalu, “orang baik pilih orang baik”. 

sejujurnya, tagline ini tak sepenuhnya merepresentasikan realita. tak semua orang baik akan memilih orang baik. banyak orang baik justru memilih orang yang tidak baik karena motif tertentu. bisa jadi motifnya karena harta, tahta, wanita, terpaksa, malu, dsj. motif yang kontekstual.

motif-motif itu bagi sebagian orang baik bukanlah alasan untuk memilih orang yang tidak baik. tapi bagi sebagian orang baik lainnya, itulah faktanya.

lantas muncul pertanyaan, bagaimana bisa orang baik tidak berada pada motif yang sama? pada titik ini, saya berkesimpulan bahwa standar orang baik bagi setiap orang berbeda. ya, standar yang berbeda yang didasarkan pada perspektif yang berbeda pula. di sinilah motif setiap orang baik tidak dapat dipaksa-samakan.

setiap orang berhak mengklaim dirinya orang baik dan pilihannya adalah yang terbaik. itu asasi. tak perlu repot bersilat lidah memaksakan motif kebaikan pada orang baik lainnya. hormati pilihan orang baik karena orang baik sudah siap dengan segala konsekuensi pilihannya.

selamat memilih, orang baik!

never grow up


seperti biasa, dzuhur berjamaah di masjid diramaikan oleh anak-anak kecil. kegaduhan mereka terkadang membuat saya tersenyum. saat seusia mereka, saya tak sempat merasakan sholat berjamaah di masjid.

selepas dzuhur berjamaah, mereka menyalami satu per satu jamaah yang lebih tua. setelah itu langsung membentuk lingkaran dengan jumlah tertentu, serupa dengan halaqah/liqo. mereka mengaji.

tak ada beban dan permasalahan pelik di pikiran mereka. hal itu tervisualisasi pada wajah-wajah yang masih polos. sekolah, mengaji, bermain, menangis, tersenyum, tertawa. itu semua dilakukan dengan ketulusan. siklus hidup yang indah.

sebuah video sepak bola komersil yang dibintangi oleh eric cantona pernah mengkampanyekan taglinenever grow up“. mungkin anak-anak itu tak perlu bertumbuh dewasa agar ketulusan itu tetap ada, agar siklus indah itu tetap terjaga.

dukung ahy

pilkada dki 2017 terlalu seksi untuk tak diikuti perkembangannya. itu yang saya rasakan. saya tak punya hak suara, tapi saya punya hak dukung dan itu saya berikan kepada agus harimurti yudhoyono (ahy).

memang majunya ahy di pilkada dki adalah sebuah kejutan. ada banyak kata “mengapa” yang beredar di pikiran. karena itu saya mencoba untuk mempelajari profilnya dalam perspektif positif.

akhir dari mempelajari profilnya berujung pada satu kata: “luar biasa” dan berujung pula pada dukungan kepada dirinya. riwayat pendidikan dan karir militernya sangat mengkilap. tak berlebihan bila ia disebut sebagai sosok yang cerdas, berintegritas dan berkompetensi.

politik praktis di negeri ini sangat membutuhkan keterlibatan orang-orang cerdas, berintegritas dan berkompeten secara masif. sudah terlalu lama orang-orang yang inkompetensi diberi ruang untuk mengurus negeri ini.

harus diakui, elektabilitasnya masih dibawah 2 kompetitor lain. posisinya adalah underdog. perlu diingat bahwa underdog berjuang dengan prinsip nothing to loose dan inilah yang kerap menghasilkan kejutan. 

mudah-mudahan ahy terpilih. bila tidak terpilihpun, keputusannya untuk terjun ke politik praktis telah menambah kuantitas orang cerdas, berintegritas dan berkompeten. sukses bang agus!